Semu

Dulu rutinitasku di pagi hari hanya duduk di kursi teras rumah sembari menikmati sejuk pagi, memperhatikan tetesan embun di dedaunan, membaca buku-buku majalah lama tentang resep makanan yang entah sudah berapa puluh kali kuulang, dan terkadang menyirami taman tepat di samping rumah.

Ngomong-ngomong rumahku menghadap ke sebelah timur yang membuat pijar matahari dapat secara langsung menyelimuti depan rumahku. Suatu kombinasi yang tepat rasanya jika waktu pagi dinikmati dengan secangkir teh hangat bersamamu, yang juga diiringi kicauan burung-burung bak instrumental kebahagiaan di dahan pohon.

Pada musim hujan, aku menikmati pagi hanya berdiam diri di dalam kamar. Berselimut sambil mendengarkan lagu-lagu balada, memperhatikan percikan air hujan lewat jendela, menerka-nerka kapan hujan berhenti menjatuhkan sarinya, atau menulis cerita pendek yang tidak siapa pun yang pernah membacanya.

Minggu pagi yang cerah ini, aku begitu bersemangat menggerakkan kereta yang lumrah disebut kursi roda, sebagai alat transportasi ke tempat mana yang aku tuju. Entah intuisi apa yang kudapatkan tadi malam hingga membuatku merasa ringan dengan hidupku yang kini banyak berdiam diri di kursi roda, dan untuk melakukan sesuatu mesti perlu bantuan orang lain.

Aku bergegas membuka pintu layaknya seperti bocah yang sudah lama menantikan kedatangan seorang Ayah yang ia cintai dengan sangat─pergi keluar kota demi buah hati dan istrinya. Namun sebenarnya, tak ada orang yang benar-benar aku tunggu kehadirannya, dan tak ada yang akan datang kecuali orang baru yang sedari jauh hari telah menentukan tanggal bahwa akan ke sini menemui Ibu untuk meraih restu sebagai teman hidupku hingga embus nafas terakhir.

Aku hanya ingin menikmati suasana pagi, seperti aku yang dulu, bersamamu.

Secangkir teh buatan Ibu yang sedari tadi sudah ada di meja, uapnya menari-nari tampak menanggalkan hangatnya sedikit demi sedikit. Aku tersenyum dan mulai menyesap yang nikmatnya membuat mataku terpejam. Alunan musik dari sebuah band bernama Payung Teduh yang kudengarkan menggunakan earphone mulai melenakan telingaku, memantapkan suasana pagi.

Buku diary dengan hard cover dan ketebalan 250 halaman, jadi temanku pagi ini. Banyak terdapat puisi, juga cerita pendek yang kutulis dengan tidak sungguh dalam buku ini. Kuperhatikan halaman demi halaman, lembar demi lembar, coretan demi coretan. Ada halaman yang penuh dengan cerita harian, sontak membuatku tersenyum bak seorang gadis yang sedang membaca sebuah teks bualan cinta dari kekasihnya, dan masih ada yang kuingat betul perihal hari di mana aku seperti apa yang kutulis dalam buku ini.

Sejenak kupejamkan mata, mengingat kronologi di masa lampau yang pernah kita lalui bersama. Masih kuingat kali pertama kita bertemu, hingga kita ditakdirkan bersama dalam hubungan yang sah, membangun rumah tangga yang pernah kita impikan sejak dua tahun lalu yang penuh dengan lelah, keluh kesah, usaha keras meluluhkan hati Ibuku yang tidak begitu yakin ada lelaki lain yang dapat membahagiakanku setelah kepergian Ayahku untuk selamanya, dan yang paling kuingat: Dini hari itu, tiga hari menjelang Lebaran, ketika kita dalam perjalanan pulang ke rumah untuk menjenguk Ayahmu─yang sudah lama terbaring lesu di tempat tidurnya. Kau mengemudi dalam keadaan kantuk teramat sangat. Sedikit pun aku tidak merasa khawatir, meskipun ku tahu itu bukanlah keadaan yang aman. Aku hanya tidur dan berharap kita akan selamat sampai tujuan.

Secara tiba-tiba, aku mendengar dentuman besar, membuatku terbangun dan berteriak karena disajikan pemandangan di luar nalar yang entah apa asal-muasalnya. Kejadian itulah yang merenggut nyawamu, dan mengantarkanku pada nasib yang sekalipun tak pernah terlintas di kepalaku bahwa akan menikmati hidup di kursi roda, sepanjang hari, dan entah sampai kapan. Ya, aku menikmati hidup, meski tanpamu.

Kini rindu di ulu hatiku melanda dan kian menjadi-jadi bak hujan membanjiri permukiman—dalam kurun waktu yang singkat—yang sudah lama mengering. Dalam waktu yang sama ketika membuka mata, air bah tak dapat lagi kubendung mulai membasahi kedua pipiku. Aku tak pernah kalah bila mengingat perihal yang sudah-sudah, atau mungkin aku tak pernah menang dalam hal melupakan.

Kemudian terdengar suara Ibu memanggil dari dalam rumah setelah aku menyeka air mata, “NIA, AYO SIAP-SIAP. SUDAH JAM DELAPAN LEWAT TUJUH MENIT.”

”Iya,” jawabku singkat seraya menghembuskan nafas dan melihat kembali halaman berisi sebuah larik yang baru saja aku baca:

 

Kau ada

pada hal-hal kecil

di pagi yang dingin

di kepalaku

saat mata terpejam.

 

Kumahfumi perihal pagi ini, takdir, dan skenario Tuhan yang telak memberadakanku di depan rumah dan menghadirkanmu sesaat dalam keadaan persis seperti yang ada dalam larik itu. Kau tampak lebih nyata saat mataku terpejam. Semua yang terjadi di pagi ini layaknya sebuah seremonial perpisahan tanpa peluk erat dan tanpa kata selamat tinggal. Bila saja waktu dapat diulang, aku ingin memeluk erat tubuhmu untuk kali terkahir sebelum kepergianmu menuju ke dunia yang berbeda.

Aku tahu bahwa hidup tidak semata-mata tentang kebahagiaan. Bahagia hanyalah bonus dari keberhasilan meraih harapan-harapan besar—penuh jerit payah —yang tak pernah lepas kita panjatkan di tiap-tiap sujud terakhir, pun dalam doa yang kita dikte dan diakhiri amin yang seirama. Meskipun segala suatu pencapaian tertinggiku tidak dikabulkan, aku masih dapat tersenyum lega, sebab Tuhan maha tahu apa yang lebih baik untuk hambanya. Dan saat ini, kau ada di tempat yang semestinya. Bahagia, dan damai.

Selamat menempuh kebahagiaan nan baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s