Hujan di Bulan April

Memasuki pertengahan bulan April, cuaca begitu tidak bersahabat. Aku tidak pernah tahu kapan ia akan berdamai dan memaafkan dirinya sendiri atas segala kecurangan dalam permainan yang telah ia buat. Tiap-tiap harinya begitu sulit untuk diterka. Terkadang ia panas yang berakhir hujan, terkadang pula ia memberikan sinyal seolah-olah akan turun hujan namun pada akhirnya tidak, atau keduanya datang secara silih berganti.

Malam ini hujan begitu deras. Tiada hentinya ia bergemuruh memperkosa telingaku. Gugurnya air hujan yang aku lihat lewat jendela kamarku yang terbuka nampaknya paham dengan keadaan yang kualami sekarang. Tiap-tiap air yang jatuh menerpa atap kamarku menghidupkan keadaan malam ini jadi jauh lebih kelam dari malam-malam biasanya. Keadaan yang memaksaku untuk meniadakan prasangka buruk dan takut akan kehilangan kepada seseorang dalam foto yang kupajang tepat di samping buku-buku di meja belajarku yang masih saja kupandangi sejak senja jingga menutup hari.

Seseorang dalam foto yang aku maksud adalah Melia. Gadis beralis tebal dan punya bibir yang tipis dengan rambut lurus yang sering terurai, namun aku lebih suka melihat saat rambutnya dikuncir nampak seperti ekor kuda. Sesekali ia menggeram ketika aku mengatakan hal tersebut kepadanya. Ia mempunyai mata hazel begitu indah yang membuatku tak jemu-jemu tiap kali menatapnya, dan ia juga memiliki suara lembut dan tutur kata sopan yang mampu memanjakan saban telinga yang mendengarnya. Aku sangat mencintainya. Terlebih pada sikapnya yang begitu ramah kepada setiap orang, sekalipun kepada orang yang tidak ia kenal.

Aku beranjak dari tempat duduk untuk menutup jendela yang sedari tadi kubiarkan terbuka, begitu dingin untuk dinikmati. Angin tak kenal malu bila menjamah kulit siapa pun, termasuk kulitku.

Sejenak aku berdiri dan memandang ke seluruh sisi kamar. Tak ada hal baru di kamar ini, terkecuali, foto kami di meja belajar. Foto yang diambil pada saat kami berlibur, di Pulau Villa Luar, Riam Kanan, akhir Maret lalu. Aku tersenyum untuk kesekian kalinya melihat bibir mungil Melia tersenyum dalam foto ini. Terlihat tidak ada sedikit pun kami menyimpan sebuah beban di balik senyum itu. Kuharap itu memang benar, terlebih pada diri Melia.

Seketika ponselku berdering, tanda sebuah notifikasi baru telah masuk.

Aku yakin itu pasti dari Melia.

Ternyata memang benar, akan tetapi, pesan singkat darinya membuatku setengah terkejut. Kali ini sikapnya begitu dingin melebihi dinginnya udara malam ini. Sehingga menguatkan rasa cemas yang menyeruak di batinku, dan membuat jemariku tanpa intruksi membalas dengan kalimat sekadarnya. Aku telah habis pikir bagaimana mengembalikan kehangatan yang dulu pernah kami buat sekalipun hanya lewat teks.

Malam ini begitu dingin bila dengan sikapmu seperti ini, Melia..

Kami sepakat untuk bertemu besok di sebuah tea shop bernama ShareTea. Mungkin, kali ini tidak ada tujuan temu untuk menepis rindu. Melainkan ada beberapa hal yang ia ingin sampaikan perihal tentang kita. Entah itu tentang apa, namun firasat seakan memerintahkanku untuk siap menerima segala hal yang tidak bisa aku cegah.

***

Sinar matahari masuk ke dalam kamar melalui ventilasi serta menembus jendela kaca yang masih tertutup gorden, menandakan hari kian meninggi. Aku menatap sesaat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan tepat.

Aku mencoba berdiri dan menghela nafas dengan keadaan lemah setelah satu malam mataku tak kuberi nafkah, sebab aku lebih memilih untuk mencari pintu keluar dari sebuah ruangan kusebut masalah yang menistakanku sebagai seorang lelaki pecundang yang memenangkan firasat buruk, hingga membutakanku dan tersesat dalam masalah itu, daripada merubah ruangan itu jadi lebih baik.

Aku membuka lemari untuk mencari sweater cokelat pemberianmu yang mampu menepiskan dingin malam saat kita camping di Bukit Batas. Dengan kondisi tubuh seperti ini, mengenakan pakaian agak tebal disaat hari yang cerah, kurasa tak begitu mampu membuatku gerah.

Aku berangkat lebih awal ke tempat yang sudah kita janjikan tadi malam. Terlalu lama di dalam kamar hanya akan membuatku membusuk seperti buah yang telalu lama diperam.

Setiba di sana, aku memutuskan untuk duduk menghadap pintu masuk agar bisa melihat kedatanganmu lewat dinding kaca tembus pandang. Aku menghitung waktu ketika menunggumu. Sesaat kemudian, kamu tiba.

Dadaku jadi begitu sesak, denyut jantungku berdebar dua kali lebih cepat dari kecepatan normal. Kali ini, aku merasa kau lebih cantik dari sebelumnya, atau mungkin, aku terlalu sering melihatmu hingga tidak menyadari kau memanglah sangat cantik. Ini adalah kali pertama aku melihatmu mengenakan kerudung. Kau berjalan menghampiriku dengan wajah takut yang menunduk. Kemudian kau membuka topik pembicaraan setelah menemukan posisi duduk yang nyaman di kursi terbuat dari kayu jati tepat di hadapanku dengan kalimat: “Maaf, ya, Dav..”

Mataku terpejam mendengar suara Melia. Lirih, namun menggema di kepalaku, menguatkan prasangka apa yang akan terjadi pada kita di hari kemudian, setelah ini.

Aku menghela nafas sebanyak yang aku bisa dan menghembuskannya secara perlahan. Tak ada satu pun kata yang dapat terucap saat sepasang bola matamu ditangkap oleh pupil mataku. Lidah ini seakan kaku. Sekaku-kakunya. Bibirmu bergetar ketika melihat aku terdiam, sedang matamu berlari-lari seolah-olah mencari kalimat yang tepat untuk kau katakan agar tidak ada kata yang melukai hati.

Melia, bila benar ada yang ingin kau sampaikan padaku, katakanlah. Tak perlu takut. Lagipula, ini jauh lebih sakit dari apa yang akan kau katakan, namun aku bisa menahan. Melihatmu saat ini adalah awal dari proses perubahan definisi kita yang akan menjadi sebuah kenangan di masa akan datang. Aku paham dengan segala apa yang semesta berikan kepada kita. Aku mengerti jika selepas ini kita masih bersama, hanya akan menjalani hidup dengan nama Tuhan yang berbeda meski kita mampu melewati tiap-tiap hari dengan penuh toleransi. Karna bagiku, perbedaan inilah yang semestinya dipersatukan. Namun, takdir terlalu tebal bagaikan dinding yang begitu sulit untuk kita terobos dengan risiko mengkhianati sebuah keyakinan dalam agama, terlebih pada Ayah tiri yang membawamu dan Ibu ke ujung kisah kita menyisakan kata seandainya.

“Aku menghargai semua keputusanmu, Mel,” kataku menanggapi permohonan maaf Melia yang sedari tadi kudiamkan. Aku tak ingin berlama-lama, karna mungkin, di detik kemudian akan ada air mata yang tak dapat dibendung.

“S—sebenarnya, aku tidak bermaksud, tapi maafkan aku. Sepertinya kita tidak bisa sama-sama lagi, Dav,” ucapmu dengan sedikit terbata itu menamparku. Jika aku dapat, ingin rasanya melepas kupingku, aku tak ingin mendengar sepatah kata lagi terucap dari lidahmu secara perlahan mengalahkanku.

Kemudian terlihat berat kau mengangkat ujung bibirmu untuk tersenyum, sedang sepasang matamu kini mulai berkaca-kaca, dan tanganmu menyerahkan kalung rosario, yang talinya terangkai butiran mutiara dan bagian salibnya terbuat dari perak mengilap, pemberianku di ulang tahunmu dua minggu lalu sebelum pernikahan Ibumu. Maka, kuraih kalung itu tanpa memintamu untuk tetap menyimpannya, dan kau mulai mengalihkan pandangan.

Jujur, aku benci saat-saat seperti ini. Aku tidak dewasa menyikapinya, memang tidak dewasa. Melihat kelopak matamu yang kini mulai basah membuatku berempati. Jika aku tidak sedang di hadapanmu, barangkali aku sudah babak belur karena ulah tanganku sendiri yang tidak dapat menyeka air matamu. Kondisi tubuh seperti ini semakin membuatku kaku. Aku hanya bisa diam, dan suasana jadi hening.

“Atas nama Dava, silakan..” pemberitahuan dari seorang karyawan memecah keheningan. Aku berdeham seraya berdiri untuk mengambil pesananku, dan kau ikut berdiri dan pamit untuk pulang lebih dulu. “Dav, aku duluan, ya..” Tololnya, aku hanya mengangguk. Tak ada sepatah kata untuk menutup pertemuan ini. Dariku, pun darimu.

Aku berdiri dan terdiam melihatmu berjalan menunduk menuju pintu keluar sembari membenarkan tas selempang di bahu kananmu. Sepasang kakimu melangkah jadi lebih jauh dari pijakan kakiku.

Mengingat perihal kita yang sudah-sudah merupakan sebuah penelitian yang hasilnya menyatakan suatu ketiadaan yang pernah ada. Kau telah berubah, Melia. Tak ada lagi rambutmu yang terurai, tak ada lagi lelucon mengenai rambutmu itu, pun tak ada lagi pelukan yang lebih hangat dari senja jingga kala kita bertemu menepis rindu.

Perubahan definisi kita bagaikan langit cerah yang menggelap pertanda akan turunnya hujan. Bunyi langkah kakimu yang menjauh terdengar seperti rentetan rintik hujan yang kian menderas. Semakin kuperhatikan langkahmu yang kian menjauh, sama halnya seperti hujan yang mereda. Barangkali akan kutemukan seorang sepertimu yang kusebut pelangi, jika tidak setelah ini, barangkali selepas hujan berikutnya.

Advertisements

5 thoughts on “Hujan di Bulan April

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s